“Warga Negara Republik Rakyat Tiongkok”
Disusun
Oleh:
Indah
Puji Lestari (1705114802)
Dosen
Pembimbing:
Islammuddin,
M.Pd
Mata
Kuliah:
Ilmu
Kewarganegaraan
Program
Studi
Pendidikan
Kewarganegaraan
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Riau
Assalamu'alaikum,
pada kesempatan kali ini, saya akan
membahas mengenai warga negara China yang kini lebih kita kenal dengan istilah
Republik Rakyat Tiongkok (RRT)
Seperti
yang sama-sama kita ketahui, Tiongkok merupakan negara dengan jumlah penduduk
yang paling banyak/terbesar ke-3 di dunia. Selain itu, Tiongkok juga merupakan
salah satu negara dengan wilayah terluas di dunia. Tiongkok sendiri ber ibukota di Beijing dan
menggunakan sistem ekonomi sosialis. Kita tahu bahwa Republik Tiongkok ini
adalah penganut ideologi komunis terbesar didunia. Bahasa resmi yang digunakan
oleh negara dengan julukan tirai bambu ini adalah bahasa mandarin. Di Indonesia
orang dengan kewarganegaraan China dikenal dengan istilah Republik Rakyat
Tiongkok (RRT) dan dikenal juga dengan sebutan “Orang Tionghoa” yang merujuk
pada suku bangsa atau etnis.
Dulu,
kita mengenal Republik Rakyat Tiongkok ini dengan sebutan Republik Rakyat
China. Lalu melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 12 tahun 2014. Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono telah mengeluarkan keputusan yang mencabut surat
edaran presidium kabinet amper nomor SE-06/Pred.Kab/6/1967 tanggal 28 juni
1967, yang pada pokoknya mengganti penggunaan istilah “Tjina” dengan istilah
Tionghoa/tiongkok.
Dalam
pertimbangannya disebutkan bahwa penyebutan istilah “tjina/cina” dalam surat
edaran tersebut telah menimbulkan dampak Psikososial-dikriminatif dalam relasi
sosial yang dialami warga bangsa Indonesia yang berasal dari keturunan Tionghoa. Akhirnya dengan berlakunya keppres tersebut, maka dalam semua
kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, penggunaan istilah Tjina/cina/china
diubah menjadi orang dan atau komunitas Tionghoa, dan untuk penyebutan negara
Republik Rakyat China diubah menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
Tiongkok
adalah negara dengan peradaban yang sangat awal dan sejarah panjang dan kaya.
Kompas, bubuk mesiu, seni pembuatan kertas dan percetakan blok ditemukan oleh
tiongkok kuno telah berkontribusi sangat besar terhadap kemajuan umat manusia.
Tembok besar, Grand terusan dan proyek lainnya yang dibangun oleh orang
Tiongkok dianggap sebagai prestasi rekayasa dunia.
Sebagai
negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, pemerintah di Tiongkok sangat
giat menggalakkan kebijakan satu anak untuk menekan jumlah penduduk republik
Tiongkok. Negara ini telah lama mengalami masalah pertumbuhan penduduk. Dalam
usaha membatasi perkembangan populasinya, RRT telah mengambil kebijakan yang
membatasi keluarga di perkotaan (etnis minoritas non-Han dikecualikan) menjadi
1 anak dan keluarga di pedalaman boleh memiliki2 anak.
Secara
resmi RRT memandang dirinya sendiri sebagai satu bangsa (Tionghoa) yang
multi-etnis dengan 56 etnisitas yang diakui. Mayoritas etnis han menyusun
hamper 93% populasi; bagaimanapun merupakan mayoritas dakam hanya hamper
setengah daerah tiongkok. Kebanyakan suku han bertutur macam-macam bahasa
vernacular Tionghoa, yang bisa dilihat sebagai 1 bahasa atau keluarga bahasa.
Subdivisi terbesar bangsa tionghoa yang diucapkan ialah bahasa mandarin, dengan
lebih banyak pembicara daripada bahasa lain di dunia.
Agama
utama di tiongkok adalah Buddha, Islam, Katolik Roma dan Protestan Kristen,
Cina Taoisme adat, Shamanisme, Kristen Ortodoks Timur dan Orang yang Naxi agama
Dongba. Revolusi komunis di negara sejak tahun 1949 meninggalkan kesan yang
besar yaitu hamper 59% penduduknya (lebih kurang 767 juta orang) menjadi Atheis
atau tidak percaya tuhan. Namun lebih kurang 33% dari mereka percaya kepada
kepercayaan tradisi atau gabungan kepercayaan Buddha dan Taoisme. Penganut
agama terbesar di negara ini ialah Buddha Mahayana yang berjumlah 100 juta
orang. Disamping itu, Buddha Theravada dan Buddha Tibet juga diamalkan oleg
golongan minoritas etnis di perbatasan barat laut negara ini. Selain itu,
diperkirakan terdapat 1,7% penduduk islam (kebanyakan sunni) dan 2,3% Kristen
di negara ini
Sejak
diberlakukannya kebijakan baru oleh Deng Xiaoping, Tiongkok mengalami kemajuan
dibidang ekonomi yang kemudian merambah bidang lain. Kebangkitan tiongkok
sebagai kekuatan ekonomi dunia baru ini disebabkan beberapa hal seperti
penguasaan negara dalam perusahaan-perusahaan disektor strategis, kebjakan luar
negeri Sovereign wealth fund,
industrialisasi, serta kekuatan militer yang terus ditingkatkan. Ekonomi pasar
sosialis di tiongkok adalah ekonomi terbesar ke dua di dunia menurut GDP
nominal, dan ekonomi terbesar didunia menurut keseimbangan kemampuan belanja
menurut IMF. Negara ini adalah ekonomi utama yang bertumbuh paling sepat
didunia, dengan pertumbuhan peringkat rata-rata 10% selama 30 tahun. Meskipun
begitu, kebangkitan Tiongkok bukan tanpa hambatan. banyak juga beberapa
permasalahan seperti energi, lingkungan, sengketa territorial, serta
kesenjangan ekonomi dan beberapa permasalahan lingkungan juga Demografi.
Sekian
pembahasan mengenai warga negara Republik Rakyat Tiongkok dari saya, apabila
banyak terdapat kesahan dan kekeliruan dalam tulisan saya kali ini, saya mohon
maaf. Wassalamu’alaikum
warahmatullahiwabarakatuh
Sumber:
https://www.kompasiana.com/arisheruutomo/54f80eb6a33311f849b49a/selamat-tinggal-cina-selamat-datang-kembali-tiongkok (diakses pada 8 Mei 2019 pukul 14:31)
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Republik_Rakyat_Tiongkok (Diakses pada 8 Mei 2019 pukul 14:52)
http://id.reingex.com/China-Population-Languages-Religion.shtml (Diakses pada 8 Mei 2019 pukul 15:05)
http://id.reingex.com/China-Population-Languages-Religion.shtml (Diakses pada 8 Mei 2019 pukul 15:05)
G,
Qomara. 2015. Kebangkitan Tiongkok dan Relevansinya terhadap Indonesia. Jurnal
Hubungan Internasional Universitas Airlangga ( Diakses pada 9 Mei 2019 Pukul
16:26)
No comments:
Post a Comment